2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching
Maksud pendidikan yaitu "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat" (Ki Hadjar Dewantara). Philosofi dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dicetuskan tentunya menjadi keniscayaan bahwa di era digital 4.0 tidak akan lantas menjadi luntur karena walaupun zaman sudah berbeda namun pada prinsipnya tetaplah sama, bahwa setiap individu peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
Peran seorang guru penggerak dalam pembelajaran haruslah berpihak kepada anak didik. Hubungan dengan pernyataan tersebut berdampak bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan tiga aspek yaitu; kesiapan belajar, minat belajar, dan juga profil belajar dari anak didik. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan kebutuhan belajar murid yang meliputi tiga aspek tersebut sebelum proses pembelajaran dimulai dengan menerapkan tiga strategi diferensiasi yaitu; diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Kegiatan tersebut terangkum dalam pembelajaran diferensiasi di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Diferensiasi.
Tugas pokok guru tidak hanya memberikan pembelajaran di kelas akan tetapi perlu melakukan tindak lanjut dari proses pembelajaran tersebut seperti memberikan penilaian, menindaklanjuti hasil penilaian, refleksi proses pembelajaran, dan kegiatan lainnya yang mungkin sangat memberikan tekanan berat. Hal ini tentunya bukan hal sepele dan jangan dianggap remeh, tekanan pekerjaan dan masalah diluar pekerjaan akan membuat kita menjadi stres. Hal serupa juga sangat mungkin ditemukan pada anak didik kita, maka dari itu perlu pengelolaan aspek sosial dan emosional diri dalam bentuk pembelajaran sosial emosional. Pembelajaran sosial dan emosional dapat membantu mengelola aspek sosial emosional diri sendiri sekaligus dapat menerapkan pemelajaran sosial emosional pada anak didik secara sistematik dan komprehensif. Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.
Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan:
- memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)
- menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
- merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
- membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi)
- membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
- Kemitraan, hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yang setara. Untuk membantu coachee mencapai tujuannya, seorang coach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee
- Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam hal ini, dengan sesi coaching yang ditekankan pada pertanyaan reflektif dan mendalam, seorang coach dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru.
- Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akan berupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang.
- Menyamakan kata kunci
- Menyamakan bahasa tubuh
- Menyelaraskan emosi
- memberi perhatian penuh pada lawan bicara kita dalam menyampaikan pesan
- tunjukkkan bahwa kita mendengarkan
- menanggapi perasaan dengan tepat
- parafase (menegaskan kembali pesan yang disampaikan)
- bertanya
- Pertanyaan terbuka
- Pertanyaan berfokus pada tujuan
- Pertanyaan reflektif
- Pertanyaan eksplorasi
- Pertanyaan yang mengukur pemahaman
- Pertanyaan Aksi
|
Apresiasi |
· Posisikan coachee
sebagai mitra dan hormati setiap apa yang dikomunikasikan · Berikan tanggapan positif dari apa yag disampaikan · Apresiasi merupakan nilai yang terkandung dalam
komunikasi yang memberdayakan |
|
Rencana |
· Dampingi coachee
dalam menemukan solusi dan menggali potensi dalam diri · Solusi dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai
bentuk tanggung jawab (TIRTA) |
|
Tulis |
· “being
present in the coaching session” · Hendaknya tulus memberikan waktu dan diri seutuhnya
dalam melakukan proses coaching · Niat dan kesungguhan coach diperlukan dalam pengembangan potensi coachee |
|
Inkuiri |
· Tuntunlah coacheei
agar dapat menggali/memetakan situasi dan menghasilkan pemikiran atau
ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi · Tekankan proses inkuiri, yaitu kekuatan pertanyaan
atau proses bertanya yang muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir
reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna
dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani. |
Pembahasan cukup menarik, dimana perubahan di mulai dari kita sendiri. Mudah mudahan guru penggerak dapat menggerakkan guru yang ada di sekitar sehingga dapat berdampak signifikan pada kemajuan pendidikan. Terutama pada keberhasilan dalam proses pembelajaran, dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang banyak memberikan manfaat dalam kehidupan
BalasHapusbahasan menarik dan mengugah inspirasi.. ditunggu kelajutannya
BalasHapusterimakasih yg sudah berkomentar
BalasHapusPembahasannya begitu menarik, menginspirasi dan bermanfaat.
BalasHapusSemoga guru penggerak bisa memberi gerakan terhadap guru-guru yanga da disekitarnya sehingga dapat memajukan hasil dari proses pembelajaran di dunia pendidikan.
Terimakasih atas sharingnya pak iman
BalasHapusPaparan tentang Koneksi Antarmateri - Coaching sangat menarik dan memberikan informasi yang baru bagi saya. Peran guru memiliki kedudukan yang penting dalam kemajuan pendidikan, sehingga guru harus memiliki kemampuan untuk menguasai pembelajaran sosial dan emosional dan keterampilan berkomunikasi.
BalasHapusPemaparan yang luar biasa, bahasan yang mendalam salah satunya menyangkut hakikat pembelajaran harus memperhatikan modalitas belajar dan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik
BalasHapusDengan PGP ini menambah wawasan dan pembaharuan bagi dunia pendidikan. Pembaharuan ini selain menyangkut modalitas belajar juga mengenalkan teknik coaching (model TIRTA) yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pembelajaran yang dilakukan selalu berpihak pada peserta didik. Sehingga peserta didik dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.